昔、絵を描くことが大好きな少年がいました。けれど描くのは、いつもいつも猫ばかり。壁にも障子にも、所構わず猫を描いてしまうのでした。
Dahulu, ada seorang bocah yang sangat gemar melukis. Namun yang ia lukis selalu dan selalu hanya kucing. Di dinding maupun di pintu kertas (shōji), tanpa pandang tempat, ia melukis kucing.
体が弱く畑仕事には向かないので、少年は寺に預けられ、小僧になりました。ところが寺でも猫ばかり描くので、とうとう和尚さんに叱られてしまいます。
Karena tubuhnya lemah dan tak cocok untuk bekerja di ladang, sang bocah dititipkan ke sebuah kuil dan menjadi biksu cilik. Namun di kuil pun ia hanya melukis kucing, hingga akhirnya ditegur oleh sang kepala biara.
寺を出ていくことになった少年に、和尚さんはふしぎな言葉を授けました。「夜は、大きな所を避け、小さな所にいなさい。」
Kepada sang bocah yang harus meninggalkan kuil, kepala biara memberikan pesan yang aneh: “Di malam hari, hindarilah tempat yang besar, dan beradalah di tempat yang kecil.”
少年は旅の途中、明かりの消えた大きな寺に泊まりました。じつはそこは、恐ろしい化け物が棲みつき、誰も近づかない廃寺だったのです。
Dalam perjalanannya, sang bocah menginap di sebuah kuil besar yang lampunya telah padam. Sesungguhnya, itu adalah kuil terbengkalai tempat seekor monster mengerikan bersarang, yang tak seorang pun berani mendekat.
少年は、がらんとした広間の白い屏風に、また夢中で猫を何匹も描きました。それから、和尚さんの言葉を思い出し、小さな戸棚の中で眠りました。
Sang bocah, di sebuah aula luas yang lengang, dengan asyik melukis lagi beberapa ekor kucing pada sehelai sekat-lipat (byōbu) putih. Lalu, teringat pesan kepala biara, ia tidur di dalam sebuah lemari kecil.
真夜中、すさまじい叫び声と、はげしく争う物音が響きわたりました。少年は戸棚の中で息をひそめ、ただ震えていました。
Di tengah malam, jeritan yang dahsyat dan suara perkelahian yang hebat menggema ke segala penjuru. Sang bocah menahan napas di dalam lemari, hanya bisa menggigil ketakutan.
朝、おそるおそる外へ出ると、床には牛ほどもある巨大な化け鼠が、息絶えて倒れていました。そして屏風の猫たちの口は、真っ赤に濡れていたのです。
Di pagi hari, ketika dengan takut-takut ia keluar, di lantai tergeletak seekor tikus siluman raksasa sebesar sapi, sudah mati tak bernyawa. Dan mulut kucing-kucing pada sekat-lipat itu, basah merah membara.
少年の描いた猫が、夜のうちに化け物を退治したのでした。やがて少年は、日本中に知られる立派な絵師になったといいます。好きを貫く心が、少年を救い、育てたのです。
Kucing-kucing lukisan sang bocah, di tengah malam, telah membinasakan sang monster. Kelak, sang bocah konon menjadi pelukis ulung yang termasyhur ke seluruh Jepang. Hati yang teguh menekuni apa yang dicintai itulah yang telah menyelamatkan dan membesarkan sang bocah.
MUKASHIBANASHI(昔話) Cerita rakyat termasyhur. Kisah ini — “The Boy Who Drew Cats” — dipopulerkan ke dunia oleh Lafcadio Hearn (1898) [[earless-hoichi]], yang menulis ulang sebuah 昔話 Jepang. Ia kini menjadi salah satu cerita anak Jepang paling dikenal di luar negeri.
Pesan yang menyelamatkan. Nasihat kabur sang kepala biara — “malam hari, hindari tempat besar, tinggallah di tempat kecil” — adalah kunci cerita: ketaatan pada pesan bijak itulah yang menyelamatkan sang bocah dari sang monster. Motif ‘nasihat yang baru terbukti maknanya kemudian’ khas folklor.
Cintai bakatmu. Inti kisah: sang bocah yang ‘dianggap tak berguna’ karena hanya bisa melukis kucing, justru terselamatkan & terangkat oleh bakat itu. Pesannya membesarkan hati: jangan remehkan kecintaan & bakat yang tampak ‘tak berguna’ — relevan bagi anak mana pun.
Lukisan yang hidup. Motif ‘gambar yang menjadi hidup’ (di sini, kucing yang membunuh tikus siluman) muncul di banyak kisah Asia Timur tentang pelukis ulung (bdk. legenda pelukis yang naga lukisannya terbang). Ia mencerminkan kekaguman budaya pada kekuatan seni. Bdk. pelukis [[iwasa-matabei]].
知っていましたか? — Tahukah kamu?
• Lafcadio Hearn menerbitkan ‘The Boy Who Drew Cats’ sebagai buku kecil dicetak di atas kertas chirimen (kertas kerut) — barang ekspor cantik yang memperkenalkan dongeng Jepang ke pembaca Barat akhir abad ke-19.
• Sebagian orang menafsir sang bocah terinspirasi pelukis besar Sesshū — yang menurut legenda, sewaktu kecil dihukum diikat di kuil, lalu melukis tikus dengan air matanya memakai jari kaki, dan tikus itu tampak hidup.
• Nasihat ‘tetap di tempat kecil’ adalah contoh foreshadowing (isyarat awal) — teknik bercerita yang membuat akhir kisah terasa memuaskan; cerita rakyat sederhana pun kerap memakai teknik canggih ini.