大昔、海老の背中はまっすぐで、烏の羽は雪のように白かったといいます。二匹は仲がよく、けれどよく自慢を競い合っていました。
Konon di zaman purba, punggung udang masih lurus, dan bulu gagak putih bagai salju. Keduanya bersahabat, tetapi sering pula berlomba membanggakan diri.
ある日、村に火が消えてしまいました。「誰か、山の火を取ってきておくれ」と人々は困っています。烏は胸を張りました。「おれにまかせろ。空を飛べるのはおれだけだ。」
Suatu hari, api di desa padam. “Tolong, ambilkan api dari gunung,” keluh orang-orang kebingungan. Sang gagak membusungkan dada. “Serahkan padaku. Hanya akulah yang bisa terbang ke langit.”
烏は燃えさかる山の火へ飛んでいき、火のついた枝をくわえました。けれど火はあつく、煙はもうもう。烏は真っ白な羽を、すっかり真っ黒に焦がしてしまったのです。
Sang gagak terbang ke api gunung yang berkobar dan menggigit sebatang ranting yang menyala. Tetapi apinya panas dan asapnya tebal membubung. Bulu putih bersih sang gagak pun seluruhnya hangus menjadi hitam legam.
真っ黒こげになって帰ってきた烏を見て、海老は腹を抱えて笑いました。「あっはっは! なんという格好だ!」あんまり笑いすぎて、海老の背中は、ぐぐっと曲がってしまいました。
Melihat sang gagak pulang hangus hitam legam, sang udang terpingkal-pingkal sambil memegangi perut. “Hahaha! Rupa macam apa itu!” Karena terlalu banyak tertawa, punggung sang udang pun melengkung bungkuk.
笑いがおさまったとき、海老の背中はもう元に戻りません。烏の羽も、黒いまま。二匹は、たがいの姿を見て、しばらく黙り込みました。
Ketika tawanya reda, punggung sang udang tak bisa kembali lurus lagi. Bulu sang gagak pun tetap hitam. Keduanya saling memandang sosok masing-masing, lalu terdiam beberapa saat.
「すまなかった」と、海老は小さくあやまりました。「人のために火を取ってきた君を、笑ったりして……。」烏は首をふりました。「いいさ。おれの黒い羽は、村に火を運んだ証だ。」
“Maafkan aku,” sang udang meminta maaf lirih. “Aku malah menertawakanmu yang mengambil api demi orang banyak...” Sang gagak menggeleng. “Tak apa. Bulu hitamku ini adalah bukti bahwa aku membawa api untuk desa.”
それからずっと、海老の背中は曲がったまま、烏の羽は黒いまま。今もその姿は、変わりません。
Sejak saat itu, punggung udang tetap bungkuk, dan bulu gagak tetap hitam. Hingga kini, wujud mereka tak berubah.
人の失敗を笑えば、その笑いはやがて自分に返ってくる――海老の曲がった背中は、そっとそう教えているのです。
Jika kau menertawakan kegagalan orang lain, tawa itu kelak akan kembali kepadamu sendiri — punggung udang yang bungkuk itu dengan halus mengajarkannya kepada kita.
PERLU VERIFIKASI Kisah ‘asal-usul’ (由来話). Cerita yang menjelaskan mengapa hewan punya ciri tertentu (udang bungkuk, gagak hitam) adalah jenis folklor yang sangat umum. Versi spesifik ‘海老と烏’ beragam antardaerah; kisah di atas adalah penceritaan ulang orisinal dari motif tersebut. (Perlu verifikasi sumber.)
Cerita ‘mengapa begini’. Hampir setiap budaya punya pourquoi tale — kisah penjelas asal-usul (mengapa gagak hitam, mengapa laut asin). Bagi anak, kisah ini memadukan rasa ingin tahu tentang alam dengan pelajaran moral yang mudah diingat.
Pesan: jangan menertawakan. Inti penceritaan ulang ini — menertawakan kemalangan orang lain berbalik merugikan diri sendiri — adalah nasihat moral universal. Punggung udang yang bungkuk menjadi ‘pengingat abadi’ yang lucu sekaligus dalam.
Gagak dalam budaya Jepang. Meski berbulu hitam, 烏 tak selalu bermakna sial di Jepang — 八咫烏 (gagak berkaki tiga) bahkan utusan suci yang menuntun Kaisar pertama. Di sini, ‘hitam’ justru menjadi tanda kehormatan karena berkorban demi sesama.
知っていましたか? — Tahukah kamu?
• Udang/lobster sering dipakai dalam perayaan Tahun Baru Jepang (御節) justru karena punggungnya yang bungkuk — melambangkan umur panjang hingga ‘membungkuk seperti kakek-nenek’.
• 八咫烏 (Yatagarasu), gagak berkaki tiga, adalah lambang suci dalam mitologi Jepang — bahkan kini menjadi logo tim sepak bola nasional Jepang.
• Kisah ‘mengapa hewan berciri begini’ (pourquoi tale) ada di seluruh dunia — dari dongeng Afrika hingga Nusantara — menunjukkan rasa ingin tahu manusia tentang alam itu universal.