Bab 39

昔話(むかしばなし)· Cerita Rakyat Lintas-Zaman

いのちのろうそく

Lilin Kehidupan — Nyala yang Tak Bisa Ditawar

Dahulu, seorang lelaki yang miskin dan buntu hidupnya bergumam, “Lebih baik aku mati saja.” Tiba-tiba, di hadapannya muncul sosok Dewa Maut (shinigami) yang kurus kering.

“Tunggu dulu,” kata sang Dewa Maut. “Ajalmu belum tiba. Akan kuajari cara mencari uang.” Sang Dewa Maut pun menganugerahkan sebuah mantra ajaib untuk menyembuhkan orang sakit.

“Bila aku duduk di sisi kepala si sakit, orang itu tak akan tertolong. Tetapi bila aku di sisi kakinya, ucapkanlah mantra, maka ia akan sembuh.” Demikianlah sang lelaki disebut tabib ulung dan menjadi kaya raya.

Namun suatu hari, demi uang besar yang ditawarkan, sang Dewa Maut justru duduk di sisi kepala seorang sakit yang sangat ingin ia selamatkan. Karena matanya gelap oleh ketamakan, sang lelaki memutar kasur si sakit, memindahkan sang Dewa Maut ke sisi kaki.

Sang Dewa Maut yang murka membawa lelaki itu ke sebuah gua. Di sana berjajar lilin yang tak terhitung banyaknya, dan konon setiap satu lilin adalah nyawa seorang manusia.

“Inilah lilinmu,” kata sang Dewa Maut sambil menunjuk sebuah nyala pendek yang seakan hendak padam. Sebagai ganjaran karena seenaknya mempermainkan ajal, sisa nyawa sang lelaki tinggal sedikit.

Sang lelaki berusaha mati-matian memindahkan apinya ke lilin baru. Namun tangannya gemetar, dan nyala yang tinggal sedikit itu pun, fut — padam begitu saja.

Kehidupan punya panjang yang telah ditentukan. Bila kalah oleh ketamakan dan membengkokkan takdir langit, justru diri sendiri yang binasa — peringatan semacam itulah yang terkandung dalam kisah ini.

語彙ごいDaftar Kosakata

KataBacaanJLPTArti
行き詰まるゆきづまるN1buntu, menemui jalan buntu
死神しにがみ専門dewa/malaikat maut
寿命じゅみょうN1umur, ajal
尽きるつきるN1habis, tuntas
呪文じゅもんN1mantra, jampi
授けるさずけるN1menganugerahkan, mengajarkan
枕元まくらもとN1sisi kepala (tempat tidur)
唱えるとなえるN1melafalkan, mengucapkan (mantra)
名医めいいN1tabib/dokter ulung
目がくらむめがくらむN1silau/gelap mata (oleh nafsu)
布団ふとんN3kasur, futon
洞窟どうくつN1gua
無数むすうN1tak terhitung
ほのおN1nyala api
勝手かってN2seenaknya, sesuka hati
必死ひっしN2mati-matian, sekuat tenaga
震えるふるえるN2gemetar
定めさだめN1ketentuan, takdir
ねじ曲げるねじまげるN1membengkokkan (paksa)
戒めいましめN1peringatan, nasihat keras
N5 N4 N3 N2 N1 名前/専門 (di luar Jōyō, tidak wajib JLPT)

解説かいせつKonteks & Komentar

PERLU VERIFIKASI  Motif ‘lilin umur’ & rakugo 死神しにがみ. Gambaran ‘nyawa manusia sebagai lilin yang menyala’ & tokoh Dewa Maut yang mengajari mantra penyembuh adalah inti cerita 落語らくご termasyhur berjudul 「死神」. Versi di atas adalah penceritaan ulang orisinal berbasis motif itu. (Detail antarversi berbeda; perlu verifikasi.)

Asal-usul yang menarik. Rakugo Shinigami diyakini terinspirasi cerita Eropa (mis. dongeng Grimm “Gevatter Tod”/“Death’s Godfather”) yang masuk ke Jepang pada zaman Meiji, lalu diolah menjadi kisah khas Jepang — contoh menarik pertukaran budaya.

Pesan: jangan menawar ajal. Inti moralnya — ketamakan yang mencoba mempermainkan takdir justru membinasakan diri — bersifat universal dan bergema dengan banyak ajaran agama, termasuk yang akrab bagi pembaca Indonesia tentang ajal di tangan Yang Mahakuasa.

Akhir yang ‘menggantung’. Dalam rakugo, kisah Shinigami punya beberapa 結末けつまつ (ending) berbeda — kadang sang lelaki mati, kadang selamat tipis. Ketegangan ‘nyala yang nyaris padam’ menjadi puncak dramatis yang khas seni bercerita Jepang.

知っていましたか? — Tahukah kamu?

落語らくご (rakugo) adalah seni bercerita komedi solo Jepang: satu pencerita duduk di atas bantal, memerankan banyak tokoh hanya dengan suara, kipas, & saputangan — Shinigami salah satu lakon paling terkenalnya.

• Motif ‘lilin = umur manusia’ muncul lintas-budaya sebagai cara membayangkan kefanaan hidup — nyala yang indah namun pasti padam.

• Banyak cerita Jepang modern menyerap kisah asing lalu ‘menjepangkannya’ — Shinigami menunjukkan bahwa folklor bukan sesuatu yang beku, melainkan terus tumbuh & bercampur.