Bab 08

平安(へいあん)· Heian 794–1185

みみなし芳一ほういち

Hōichi si Tanpa Telinga — Hantu Klan Heike

Di penghujung Perang Genpei, di laut Dan-no-ura, klan Heike binasa, dan Kaisar cilik Antoku pun tenggelam ke dalam ombak. Di dekat sana, di kuil Amidaji, tinggallah seorang pendeta-biwa buta bernama Hōichi. Bila menchanting “Hikayat Heike”, tak ada yang sanggup menandinginya — ia maestro sejati.

Suatu malam, ketika kepala biara sedang pergi, sebuah suara berat dan rendah memanggil Hōichi. “Seorang bangsawan agung menghendaki permainanmu.” Dituntun oleh sosok yang tampak seperti samurai, Hōichi memetik biwa di sebuah aula megah. Saat ia menchanting bagian Dan-no-ura, para pendengar terisak-isak.

Diperintah, “Datanglah beberapa malam lagi. Tapi jangan ceritakan pada siapa pun,” Hōichi mulai menyelinap keluar tiap malam. Curiga, kepala biara menyuruh beberapa orang membuntutinya — dan mereka mendapati Hōichi di tengah pekuburan, di depan makam-makam Heike, dikelilingi api-hantu, seorang diri memetik biwa.

Kepala biara pun sadar: arwah Heike telah memperdaya Hōichi, dan bila dibiarkan, nyawanya akan direnggut. Maka ia menuliskan Sutra Hati (Hannya Shingyō) penangkal roh dengan tinta ke sekujur tubuh Hōichi, lalu berpesan, “Malam ini, sekalipun engkau dipanggil, jangan bersuara dan jangan bergerak sedikit pun.”

Malam itu, suara samurai kembali memanggil, “Hōichi!” Namun tak ada sahutan. Ketika si empunya suara mencari, di dalam kegelapan hanya tampak dua buah telinga yang mengambang. Rupanya kepala biara lupa menuliskan sutra — tepat di kedua telinga itu.

“Sebagai bukti, setidaknya kubawa pulang telinga ini.” Begitu berkata, sang samurai merenggut putus kedua telinga Hōichi. Hōichi menahan nyeri yang amat sangat, diam membatu tanpa mengeluarkan satu suara pun.

Fajar menyingsing; kepala biara yang kembali melihat Hōichi bersimbah darah, menyesali kelalaiannya, lalu merawat lukanya dengan saksama. Luka itu pun sembuh, dan nama “Hōichi si Tanpa Telinga” termasyhur hingga jauh. Banyak orang datang ingin mendengar biwa-nya, dan Hōichi pun memperoleh ketenaran.

語彙ごいDaftar Kosakata

KataBacaanJLPTArti
源平げんぺい専門klan Minamoto (Genji) & Taira (Heike)
一族いちぞくN1satu klan, satu marga
滅びるほろびるN1binasa, runtuh, punah
琵琶法師びわほうし専門pendeta-biwa pengelana buta
名手めいしゅN1ahli, maestro
住職じゅうしょく専門kepala biara (kuil Buddha)
留守るすN4tidak di rumah, kosong (penghuni pergi)
所望しょもうN1menghendaki, meminta
導くみちびくN2menuntun, memandu
墓地ぼちN2pekuburan
鬼火おにび専門api-hantu, nyala arwah
亡霊ぼうれいN1arwah, hantu
惑わすまどわすN1memperdaya, menyesatkan
魔よけまよけ専門penangkal/penolak roh jahat
返事へんじN4jawaban, sahutan
あかしN1bukti
激痛げきつうN1nyeri hebat
耐えるたえるN2menahan, bertahan
過ちあやまちN1kekeliruan, kelalaian
名声めいせいN1ketenaran, nama harum
N5 N4 N3 N2 N1 名前/専門 (di luar Jōyō, tidak wajib JLPT)

解説かいせつKonteks & Komentar

怪談(LEGENDA HANTU)  Legenda hantu (怪談かいだん). Kisah Mimi-nashi Hōichi sudah lama beredar di Jepang, tetapi versi yang mendunia ditulis Lafcadio Hearn (Koizumi Yakumo) dalam Kwaidan (1904), lalu difilmkan Kobayashi (1964). Ini cerita rakyat/legenda — namun latarnya berpijak pada peristiwa sejarah yang nyata.

Latar sejarah yang nyata. Pertempuran だんうら (Dan-no-ura, 1185) benar-benar mengakhiri 源平げんぺい (Perang Genpei): klan 平家へいけ (Taira) hancur, dan Kaisar Antoku yang baru berusia enam tahun tenggelam dalam dekapan neneknya. Trauma kekalahan inilah yang melahirkan kepercayaan akan arwah Heike yang gentayangan di selat Shimonoseki.

琵琶法師びわほうし & Heikyoku. Hōichi mewakili tradisi nyata para biwa hōshi: pendeta-pengelana buta yang menchanting 平家物語 diiringi 琵琶びわ. Lewat merekalah epik kejatuhan Heike disebarkan dari mulut ke mulut selama berabad-abad sebelum dibukukan.

Jejak yang nyata. Di Shimonoseki berdiri 赤間神宮あかまじんぐう (Akama Jingū, dahulu kawasan Amidaji) yang memuliakan Kaisar Antoku, lengkap dengan makam para Heike dan sebuah aula peringatan Hōichi. Konon kepiting Heikegani di laut sekitar — bercangkang serupa wajah marah — dianggap penjelmaan arwah para prajurit Heike.

知っていましたか? — Tahukah kamu?

• Sutra yang dituliskan ke tubuh Hōichi adalah 般若心経はんにゃしんぎょう (Sutra Hati) — teks Buddha paling ringkas dan paling sering dilafalkan di Asia Timur sebagai penolak bala.

• Lafcadio Hearn, penulis versi termasyhurnya, adalah orang Barat (kelahiran Yunani-Irlandia) yang menjadi warga Jepang dengan nama 小泉八雲 (Koizumi Yakumo); kumpulan Kwaidan-nya memperkenalkan hantu-hantu Jepang ke dunia.

• Kepiting 平家蟹へいけがに (Heikegani) bercorak punggung mirip wajah samurai yang meringis; nelayan dahulu melepasnya kembali ke laut, dan legenda menyebutnya jelmaan prajurit Heike yang gugur di Dan-no-ura.