一八五四年、紀州の海辺の村に、浜口梧陵という村の指導者がいました。ある日の夕方、大きな地震が村をゆらしました。
Pada tahun 1854, di sebuah desa tepi laut di Kishū (Wakayama), hiduplah seorang tokoh pemuka desa bernama Hamaguchi Goryō. Suatu senja, gempa besar mengguncang desa itu.
梧陵は、海の水が不気味に引いていくのに気づきました。井戸の水も急に減っている。これは――津波が来る前触れだと、彼はさとりました。
Goryō menyadari air laut surut secara menyeramkan. Air sumur pun tiba-tiba berkurang. Ini — pertanda akan datangnya tsunami, demikian ia menangkapnya.
けれど、時はすでに夜。低い土地にいる村人たちに、危険を知らせるすべがありません。大声で叫んでも、間に合わないかもしれない。
Namun, saat itu sudah malam. Tak ada cara untuk memberitahukan bahaya kepada para penduduk yang berada di tanah rendah. Sekeras apa pun berteriak, mungkin sudah tak akan keburu.
そのとき梧陵は、迷わず決断しました。丘の上に積み上げてあった、刈ったばかりの大切な稲の束――稲むらに、自ら火を放ったのです。
Saat itulah Goryō memutuskan tanpa ragu. Tumpukan ikatan padi berharga yang baru saja dipanen, yang teronggok di atas bukit — pada timbunan padi (inamura) itu, ia sendiri menyulutkan api.
夜空を焦がす炎を見た村人たちは、「火事だ!」と火を消そうと次々に丘へ駆け上ってきました。こうして人々は、高い場所へと集まったのです。
Para penduduk yang melihat kobaran api menghanguskan langit malam berseru, “Kebakaran!” dan berbondong-bondong berlari menaiki bukit untuk memadamkannya. Dengan begitu, orang-orang pun terkumpul di tempat yang tinggi.
その直後、巨大な津波が村をのみこみました。けれど、丘に逃れていた村人たちの多くは、命を救われました。
Sesaat setelah itu, tsunami raksasa menelan desa. Namun, sebagian besar penduduk yang telah menyelamatkan diri ke bukit pun nyawanya terselamatkan.
梧陵は、一年の収穫を犠牲にして、村人を救ったのです。そののち彼は、将来の津波に備えて、長く頑丈な堤防を築きました。
Goryō mengorbankan hasil panen setahun demi menyelamatkan warga desanya. Setelah itu, untuk bersiap menghadapi tsunami di masa depan, ia membangun tanggul yang panjang dan kokoh.
この物語は「稲むらの火」として語り継がれ、防災の教えとなりました。梧陵の先を読む知恵と、身を削る勇気は、今も世界の人々に受け継がれています。
Kisah ini terus dituturkan sebagai “Inamura no Hi” (Api di Sawah) dan menjadi ajaran tentang kesiapsiagaan bencana. Kearifan Goryō yang membaca tanda-tanda lebih dini, dan keberaniannya berkorban, hingga kini diwariskan kepada orang-orang di seluruh dunia.
SEJARAH(歴史) Peristiwa sejarah nyata. 浜口梧陵 sungguh-sungguh ada, dan pada gempa & tsunami Ansei-Nankai (1854) ia menyalakan timbunan padinya untuk menuntun warga 広村 (Hiro, kini Hirogawa, Wakayama) ke bukit. Lebih dari 90% penduduk selamat. Ia kemudian membangun tanggul Hiromura sepanjang ~600 m yang masih ada hingga kini.
Tanda-tanda alam. Yang menyelamatkan desa adalah pengetahuan: air laut yang surut tiba-tiba dan air sumur yang turun adalah tanda dini tsunami. Goryō membacanya dan bertindak cepat — pelajaran mitigasi bencana yang masih diajarkan di seluruh dunia hari ini.
Dari kisah ke pendidikan dunia. Cerita ini dipopulerkan oleh Lafcadio Hearn (“A Living God”) [[earless-hoichi]] lalu masuk buku pelajaran Jepang sebagai 稲むらの火. PBB menetapkan 5 November sebagai Hari Kesadaran Tsunami Sedunia — tanggal yang merujuk peristiwa ini.
Pengorbanan seorang pemimpin. Goryō membakar seluruh hasil panennya — kekayaan setahun — untuk menyelamatkan nyawa orang banyak. Tema kepemimpinan yang mendahulukan rakyat di atas harta pribadi bergema dengan kisah [[princess-kurohime]] yang juga berkorban demi orang banyak.
知っていましたか? — Tahukah kamu?
• Berkat kisah ini, 5 November dijadikan PBB sebagai “World Tsunami Awareness Day” (Hari Kesadaran Tsunami Sedunia) sejak 2015 — relevan langsung bagi Indonesia yang juga rawan gempa & tsunami.
• Tanggul Hiromura (広村堤防) yang dibangun Goryō benar-benar melindungi desa dari tsunami pada gempa berikutnya, dan kini menjadi monumen serta tempat belajar mitigasi bencana.
• Hamaguchi Goryō kelak menjadi tokoh penting pada awal Meiji; keluarganya juga dikenal sebagai pendiri perusahaan kecap Yamasa yang masih ada sampai sekarang.