Bab 10

室町・戦国・安土桃山 · Muromachi–Sengoku

今川氏真いまがわうじざね

Imagawa Ujizane — Daimyō yang Kehilangan Segalanya, tapi Hidup Paling Lama

Keluarga Imagawa adalah wangsa terpandang yang menguasai Suruga. Sang kepala keluarga, Imagawa Yoshimoto, memimpin pasukan besar menuju ibu kota, tetapi tewas di tangan Oda Nobunaga di Okehazama. Yang mewarisi kedudukannya adalah putranya, Ujizane.

Ujizane tak memiliki bakat kemiliteran seperti ayahnya. Para pengikutnya menyingkir satu demi satu, dan muncul pula para pengkhianat. Sejak semula, ia memang lebih menyukai waka dan kemari (sepak bola istana) ketimbang peperangan.

Imagawa yang telah melemah diserbu dari dua sisi: oleh Takeda Shingen, dan oleh sekutu lamanya sendiri, Tokugawa Ieyasu. Wilayah kekuasaannya pun direbut dengan cepat.

Ujizane berupaya menjepit Takeda yang tak memiliki laut dengan menghentikan pasokan garam. Namun musuh bebuyutan Takeda sendiri, Uesugi Kenshin, justru sengaja mengirimkan garam kepada Takeda, sehingga siasat itu pun gagal total.

Satu per satu bentengnya jatuh; Ujizane melarikan diri, dan akhirnya kehilangan seluruh wilayahnya. Wangsa terpandang Imagawa, sebagai sebuah daimyō, telah tamat.

Namun Ujizane tidak mati. Setelah berlindung ke sana-kemari, ia justru menjadi pengikut Tokugawa Ieyasu — orang yang turut meruntuhkannya — dan bertahan hidup dengan tenang.

Diperlakukan sebagai kōke (bangsawan ahli upacara) di Edo, Ujizane menjalani hidupnya dengan menggubah waka yang dicintainya dan asyik bermain kemari. Meski kalah dalam perang, ia kaya dalam jalan keanggunan budaya.

Ujizane hidup hingga sekitar usia tujuh puluh tujuh — melampaui kepergian Nobunaga, Shingen, Kenshin, bahkan Hideyoshi. Sang “pecundang” yang kehilangan negerinya justru hidup lebih lama daripada para pahlawan Sengoku mana pun, dan wafat dengan tenang di atas tikar tatami.

語彙ごいDaftar Kosakata

KataBacaanJLPTArti
名門めいもんN1wangsa/keluarga terpandang
当主とうしゅ専門kepala keluarga (saat ini)
率いるひきいるN1memimpin (pasukan)
討つうつN1membunuh (musuh), menumpas
器量きりょうN1kecakapan, bakat memimpin
家臣かしん専門pengikut, vasal
裏切るうらぎるN2mengkhianati
蹴鞠けまり専門kemari (sepak bola istana Heian)
同盟どうめいN1persekutuan, aliansi
領地りょうちN1wilayah kekuasaan, tanah feodal
奪ううばうN2merebut, merampas
しおN5garam
宿敵しゅくてきN1musuh bebuyutan
作戦さくせんN2siasat, taktik
生き延びるいきのびるN1bertahan hidup, selamat
高家こうけ専門kōke — bangsawan ahli upacara (Edo)
詠むよむN1menggubah/melantunkan puisi
みやびN1keanggunan, keindahan halus
英雄えいゆうN2pahlawan
負け犬まけいぬN1pecundang (harfiah: anjing kalah)
N5 N4 N3 N2 N1 名前/専門 (di luar Jōyō, tidak wajib JLPT)

解説かいせつKonteks & Komentar

SEJARAH(歴史)  Tokoh sejarah nyata. 今川氏真いまがわうじざね (1538–1615) adalah kepala ke-10 wangsa Imagawa. Ayahnya, 今川義元いまがわよしもと, benar-benar tewas dalam Pertempuran Okehazama (1560) melawan Oda Nobunaga — salah satu kejutan terbesar zaman Sengoku. Sesudahnya, wangsa Imagawa runtuh ditekan Takeda & Tokugawa.

“Mengirim garam ke musuh”. Kisah Uesugi Kenshin yang memasok garam ke Takeda — meski mereka berseteru — melahirkan peribahasa Jepang てきしおおくる」 (“mengirim garam kepada musuh”): menolong lawan yang sedang kesulitan, alih-alih memanfaatkannya. Embargo garam Ujizane gagal justru karena sikap ksatria lawannya.

Kalah perang, menang umur. Inilah ironi yang membuatnya menarik: daimyō yang kehilangan segalanya ini menjadi 高家こうけ Tokugawa dan hidup hingga ~77 tahun — melampaui Nobunaga, Shingen, Kenshin, dan Hideyoshi. Ia mengabdikan diri pada 和歌わか dan 蹴鞠けまり, warisan budaya istana Heian. Bdk. kemari di [[ono-no-komachi]]-era istana.

Makna “underdog”. Sejarah sering hanya mengenang para pemenang. Ujizane mengingatkan bahwa bertahan hidup dan menemukan makna di luar medan perang juga sebuah kemenangan — tema yang menyatukan banyak tokoh dalam kumpulan Underdogs of Japanese History.

知っていましたか? — Tahukah kamu?

蹴鞠けまり (kemari) adalah permainan menyepak bola rusa agar tak jatuh ke tanah — bukan adu menang-kalah, melainkan seni kerja sama yang anggun. Ujizane konon sangat mahir, bahkan pernah memperlihatkannya di hadapan Tokugawa Ieyasu.

• Peribahasa 「敵に塩を送る」 masih hidup dalam bahasa Jepang modern, dipakai untuk menggambarkan sikap membantu rival yang sedang terdesak — sebuah nilai sportivitas.

• Beberapa waka karya Ujizane masih tersimpan; ia membuktikan bahwa garis keturunan yang “kalah” secara politik dapat lestari sebagai keluarga budaya selama berabad-abad di bawah Tokugawa.