Bab 11

室町・戦国・安土桃山 · Muromachi–Sengoku

小田氏治おだうじはる

Oda Ujiharu — Daimyō ‘Paling Sial’ yang Tak Pernah Menyerah

Di Provinsi Hitachi, tuan dari Benteng Oda adalah seorang daimyō bernama Oda Ujiharu. Sejujurnya, ia tidak begitu pandai berperang.

Hōjō, Yūki, Satake, Uesugi — para musuh kuat di sekelilingnya berkali-kali merebut Benteng Oda. Ujiharu pun berulang kali terusir dari bentengnya sendiri.

Namun, setiap kali pula Ujiharu kembali dan merebut bentengnya. Dan lagi, sering kali ia melakukannya dengan jumlah prajurit yang sedikit.

Mengapa bisa begitu? Ternyata Ujiharu dicintai pengikut dan rakyatnya secara luar biasa. Setiap kali bentengnya direbut, bahkan para petani pun bangkit dan mengulurkan tenaga untuk merebut kembali benteng demi tuan mereka.

Meski demikian, kelemahan Ujiharu juga jelas: ia terlalu gemar bertempur di lapangan terbuka daripada bertahan di dalam benteng. Suatu kali, ia mengabaikan pesan terakhir seorang pengikut — “Perkuatlah benteng dan bertahanlah” — lalu menyerbu keluar, dan kehilangan bentengnya lagi.

Menurut catatan, Benteng Oda direbut hingga sembilan kali, dan delapan di antaranya berhasil ia rebut kembali. Tak ada panglima lain yang sebanyak itu kalah, sekaligus sebanyak itu bangkit kembali.

Akhirnya, ketika Toyotomi Hideyoshi menyatukan seluruh negeri, Ujiharu yang tak mau tunduk pun seluruh wilayahnya disita. Namun nyawanya diampuni, dan ia menjalani masa tuanya tanpa peperangan.

Ujiharu bahkan dijuluki “yang terlemah di zaman Sengoku”. Namun sosoknya yang selalu bangkit setiap kali jatuh, dan tetap dicintai orang, hingga kini masih disayangi banyak orang.

語彙ごいDaftar Kosakata

KataBacaanJLPTArti
あるじN1tuan, pemilik
大名だいみょう専門daimyō, tuan tanah besar
得意とくいN3mahir, jago (dalam sesuatu)
強敵きょうてきN1musuh tangguh
奪ううばうN2merebut, merampas
取り返すとりかえすN2merebut/mengambil kembali
へいN2prajurit, serdadu
百姓ひゃくしょうN1petani (rakyat jelata)
殿との専門tuanku (sapaan untuk tuan feodal)
弱点じゃくてんN2kelemahan, titik lemah
籠もるこもるN1berlindung/mengurung diri (di benteng)
合戦かっせん専門pertempuran, peperangan
遺言ゆいごんN1pesan/wasiat terakhir
無視むしN2mengabaikan
立ち直るたちなおるN1bangkit/pulih kembali
武将ぶしょう専門panglima perang
統一とういつN1menyatukan, unifikasi
没収ぼっしゅうN1menyita, merampas (oleh kuasa)
晩年ばんねんN1masa tua, akhir hayat
最弱さいじゃくN1yang paling lemah
N5 N4 N3 N2 N1 名前/専門 (di luar Jōyō, tidak wajib JLPT)

解説かいせつKonteks & Komentar

SEJARAH(歴史)  Tokoh sejarah nyata. 小田氏治おだうじはる (1534–1602) memerintah Provinsi Hitachi dari 小田城おだじょう. Catatan menyebut bentengnya jatuh sampai sembilan kali dan ia merebutnya kembali delapan kali — sehingga ia kerap dijuluki “daimyō terlemah Sengoku”. (Jangan keliru: ia bukan dari wangsa Oda Nobunaga.)

Kekuatan sejatinya: kesetiaan. Yang membuat Ujiharu istimewa bukan kemenangan, tetapi betapa rakyat dan pengikutnya menolak menyerah atas dirinya. Berulang kali petani biasa ikut bangkit membantunya merebut benteng — bukti bahwa wibawa seorang pemimpin bisa diukur dari kesetiaan yang ia tumbuhkan, bukan sekadar dari menang-kalah.

Kelemahan yang manusiawi. Sumber menyebut Ujiharu lebih suka bertempur di medan terbuka daripada bertahan — sekali waktu mengabaikan nasihat sekarat penasihatnya, lalu kalah lagi. Kombinasi “sering kalah tetapi selalu bangkit” inilah yang menjadikannya simbol ketahanan (resiliensi), bukan sekadar kegagalan.

Akhir & warisan. Ketika 豊臣秀吉とよとみひでよし menuntaskan penyatuan Jepang (kampanye Odawara, 1590), Ujiharu yang tak menyerah kehilangan seluruh tanahnya, tetapi nyawanya diampuni. Kini ia justru populer sebagai “pecundang yang dicintai” — tokoh permainan & budaya pop Jepang.

知っていましたか? — Tahukah kamu?

• Julukan tak resmi Ujiharu di kalangan penggemar sejarah Jepang adalah 「不死鳥」 (phoenix) — burung yang selalu bangkit dari abu — karena kebiasaannya merebut kembali benteng yang berulang kali hilang.

• Banyak daimyō yang sekali kalah telak langsung tamat. Rekor Ujiharu — kalah berkali-kali namun terus hidup dan melawan — justru menjadikannya bahan kekaguman: kegagalan bukanlah akhir selama masih ada yang percaya padamu.

• Reruntuhan Benteng Oda (小田城) di Tsukuba, Prefektur Ibaraki, kini menjadi situs bersejarah yang ditata sebagai taman — saksi bisu dari sembilan kali jatuh-bangunnya.