昔、ある酒屋に、毎晩のように小さな小僧が酒を買いに来ました。いつも同じ刻げん、同じ銭を置いて、ていねいに頭を下げて帰っていきます。
Dahulu, di sebuah kedai sake, hampir setiap malam datang seorang biksu cilik untuk membeli sake. Selalu pada jam yang sama, meletakkan uang yang sama, lalu pulang sambil menunduk hormat dengan sopan.
ところが、翌朝になると、銭箱の中の銭が、いつのまにか木の葉に変わっているのです。「はて、ふしぎな小僧さんだ」と、酒屋の主人は首をかしげました。
Namun, begitu pagi tiba, uang di dalam kotak uang entah sejak kapan telah berubah menjadi dedaunan. “Hm, biksu cilik yang aneh,” gumam sang pemilik kedai sambil memiringkan kepala bingung.
ある晩、主人はそっと小僧のあとをつけてみました。小僧は山の奥へ入り、古い祠のそばで、ぽんっと一匹の古狸に戻りました。
Suatu malam, sang pemilik diam-diam membuntuti si biksu cilik. Si biksu masuk ke pedalaman gunung, dan di dekat sebuah bangunan keramat tua, pluk! — ia berubah kembali menjadi seekor musang (tanuki) tua.
狸は、買ってきた酒を、病に伏せった年老いた母狸の口もとへ、そっと運んでいました。「母さん、好きな酒だよ。早く元気になってね。」
Sang tanuki rupanya membawa sake yang dibelinya itu dengan lembut ke mulut ibu tanuki yang sudah tua dan terbaring sakit. “Bu, ini sake kesukaanmu. Cepatlah sembuh, ya.”
それを見た主人は、怒る気などすっかり消えてしまいました。木の葉の銭であっても、親を思う心は本物だ――そう感じたのです。
Melihat itu, rasa marah sang pemilik lenyap sama sekali. Meski uangnya hanya dedaunan, hati yang menyayangi orang tua itu sungguh nyata — demikian ia merasakannya.
次の晩から、主人は小僧に、こっそり上等な酒を、銭も取らずに持たせてやるようになりました。
Sejak malam berikutnya, sang pemilik diam-diam membekali si biksu cilik dengan sake bermutu tinggi, tanpa memungut bayaran sepeser pun.
やがて母狸は元気になり、小僧はある晩、店の前に山のように栗やきのこを積み上げ、深く頭を下げて姿を消しました。
Lama-kelamaan ibu tanuki pun sembuh, dan suatu malam si biksu cilik menumpuk berkarung-karung berangan dan jamur setinggi gunung di depan kedai, lalu menunduk dalam-dalam dan menghilang.
姿は狸でも、心は人よりやさしい――この話は、恩と情けの温かさを、そっと伝えています。
Meski wujudnya musang, hatinya lebih lembut daripada manusia — kisah ini dengan halus menyampaikan kehangatan budi dan belas kasih.
PERLU VERIFIKASI Motif yang tersebar, versi beragam. Kisah ‘makhluk menyamar membeli sake/sesuatu, membayar dengan daun’ amat umum dalam 昔話 (kadang pelakunya 狸, kadang 狐). Tak ada satu teks baku berjudul ‘Sakekai Kozō’; versi di atas adalah penceritaan ulang orisinal bertema bakti pada orang tua. (Perlu verifikasi sumber spesifik.)
狸 & daun yang menjadi uang. Tanuki dalam folklor Jepang terkenal suka menjelma dan ‘membayar dengan daun yang tampak seperti uang’ (木の葉のお金). Ia umumnya tokoh nakal yang lucu — bukan jahat — sehingga cocok untuk kisah berpesan hangat.
Bakti & belas kasih. Inti penceritaan ulang ini adalah 親孝行 (bakti kepada orang tua) — nilai yang dijunjung tinggi di Jepang dan Indonesia. Bahwa seekor ‘monster’ pun berbakti membuat pesannya makin menyentuh; bdk. empati pada yōkai di [[cow-woman]].
恩返し yang berbalas. Akhir kisah — tanuki menumpahkan hasil hutan sebagai balas budi — mengulang pola kebaikan dibalas kebaikan yang menjadi urat nadi cerita rakyat Jepang (bdk. [[grateful-crane]]).
知っていましたか? — Tahukah kamu?
• Dalam folklor Jepang, tanuki sering digambarkan menipu dengan ‘uang daun’ — daun yang disihir agar tampak seperti koin, tetapi kembali menjadi daun keesokan harinya.
• Patung tanuki berperut buncit memegang botol sake & buku utang adalah jimat keberuntungan populer di depan kedai & restoran Jepang — melambangkan kemurahan rezeki.
• Tema ‘membeli sake/obat untuk orang tua yang sakit’ adalah motif 親孝行 klasik yang muncul di banyak cerita rakyat Asia Timur.