江戸の日本は、国を閉ざす「鎖国」の道を選びました。そのために運命を変えられた人々がいます。外国人の父と日本人の母の間に生まれた子どもたちです。
Jepang zaman Edo memilih jalan menutup negeri — “sakoku” (isolasi). Karena kebijakan itu, ada orang-orang yang nasibnya berubah selamanya: anak-anak yang lahir dari ayah orang asing dan ibu orang Jepang.
長崎の近くに、お春という少女がいました。父はイタリア出身の船長、母は日本人でした。
Di dekat Nagasaki, hiduplah seorang gadis bernama Oharu. Ayahnya seorang kapten kapal berdarah Italia, dan ibunya orang Jepang.
一六三九年、幕府は、こうした子どもたちとその母を国外へ追放するよう命じました。まだ十四歳ほどだったお春は、オランダの船に乗せられました。
Pada tahun 1639, keshogunan memerintahkan agar anak-anak semacam itu beserta ibu mereka diusir ke luar negeri. Oharu yang baru berusia sekitar empat belas tahun pun dinaikkan ke sebuah kapal Belanda.
船がたどり着いたのは、はるか南の「バタヴィア」――今のインドネシア・ジャカルタでした。暑い南国の、故郷とはまるで違う世界です。
Kapal itu akhirnya tiba di “Batavia” yang jauh di selatan — yang kini bernama Jakarta, Indonesia. Sebuah negeri tropis yang panas, dunia yang sama sekali berbeda dari kampung halamannya.
異国の地で、お春はたくましく生きました。言葉や習慣の違う人々の中で結婚し、近年の研究によれば、商売で成功し、自立した女性になったといいます。
Di negeri asing itu, Oharu hidup dengan tangguh. Ia menikah di tengah orang-orang yang berbeda bahasa dan adat, dan menurut penelitian belakangan, ia bahkan berhasil dalam usaha dagang dan menjadi perempuan yang mandiri.
それでも、お春の心は、しばしば日本へと向かいました。追放された人々が故郷へ送った手紙は、「ジャガタラ文」と呼ばれ、二度と帰れない国への切ない思いに満ちていました。
Namun begitu, hati Oharu kerap melayang ke Jepang. Surat-surat yang dikirim para orang buangan ke kampung halaman disebut “Jagatara-bumi” (surat-surat dari Jakarta), penuh kerinduan pilu akan negeri yang takkan pernah bisa mereka tinggali lagi.
「日本が恋しい」――遠い南の空の下で、四季の移ろいや、母の言葉を懐かしむ気持ちが、手紙にはつづられていたのです。
“Aku rindu Jepang” — di bawah langit selatan yang jauh, dalam surat-surat itu tertuang kerinduan akan pergantian empat musim dan akan bahasa ibunda.
お春は、その生涯をバタヴィアで終えました。日本とインドネシアを結ぶ彼女の物語は、国の政策が人の運命をどう変えるか、そして人がいかに故郷を離れても強く生きられるかを、今に伝えています。
Oharu mengakhiri seluruh hidupnya di Batavia. Kisahnya yang menjembatani Jepang dan Indonesia menyampaikan kepada kita kini: bagaimana kebijakan sebuah negara dapat mengubah nasib manusia, dan bagaimana manusia tetap bisa hidup tegar betapapun jauh dari kampung halaman.
SEJARAH(歴史) Tokoh sejarah nyata. ジャガタラお春 (Oharu, nama baptis Jeronima) adalah putri seorang kapten berdarah Italia dan ibu Jepang. Pada 1639, di bawah dekret 鎖国 (isolasi), ia termasuk 32 orang keturunan campuran yang diasingkan dari Hirado ke Batavia (Jakarta) di atas kapal VOC Belanda.
Jembatan Jepang–Indonesia. Batavia adalah ibu kota Hindia-Belanda — kini Jakarta. Maka kisah Oharu menautkan langsung sejarah Jepang dengan tanah air pembaca: pada abad ke-17, gadis Jepang ini menjalani hidupnya di kota yang sama tempat kita berpijak hari ini. Riset mutakhir menunjukkan ia sukses berdagang dan hidup mandiri di Batavia.
PERLU VERIFIKASI Catatan kehati-hatian. Surat ジャガタラ文 yang paling termasyhur dan puitis — ratapan rindu “日本恋しや” — kemungkinan besar adalah gubahan sastra yang lebih belakangan, bukan tulisan asli Oharu. Yang pasti secara sejarah adalah pengasingannya. Kami sajikan kerinduan itu sebagai motif nasib para buangan, bukan sebagai kutipan harfiah Oharu. (Perlu verifikasi lebih lanjut atas teks suratnya.)
Harga sebuah kebijakan. Kisah ini memperlihatkan sisi manusiawi 鎖国: demi “memurnikan” negeri, ratusan anak dipisahkan dari satu-satunya tanah air yang mereka kenal. Tema perpisahan paksa & kerinduan ini bergema dengan banyak kisah diaspora di dunia.
知っていましたか? — Tahukah kamu?
• Batavia adalah nama kolonial Belanda untuk Jakarta (1619–1942). Jadi ketika sumber Jepang menyebut お春 “diasingkan ke ジャガタラ (Jagatara)”, yang dimaksud adalah Jakarta tempat kita berada kini.
• Bersama Oharu, sekitar 32 orang keturunan campuran beserta ibu mereka diasingkan dari Hirado pada 1639 — sebuah rombongan kecil yang menjadi simbol kerasnya politik isolasi Edo.
• Kisah Oharu diangkat ke novel, lagu, hingga panggung Takarazuka di Jepang (“Jagatara-bumi”) — menjadikannya wajah paling dikenang dari para “anak yang terbuang” akibat sakoku.