平安の都に、小野小町という歌人がいました。その美しさは都じゅうに知れわたり、和歌の才においても並ぶ者がないと言われました。多くの貴族が恋の歌を送りましたが、小町はだれにも容易く心を許しませんでした。
Di ibu kota Heian, hiduplah seorang penyair bernama Ono no Komachi. Kecantikannya termasyhur ke seluruh penjuru kota, dan dalam kepiawaian waka pun konon tiada tandingannya. Banyak bangsawan mengiriminya puisi cinta, tetapi Komachi tak mudah membuka hatinya kepada siapa pun.
そんな小町に、深く恋こがれた一人の貴公子がいました。深草少将です。少将は幾度となく思いを伝え、どうか自分の妻に、と願い続けました。
Pada Komachi yang demikian, ada seorang pemuda bangsawan yang jatuh cinta mendalam — Fukakusa no Shōshō. Berkali-kali sang Shōshō menyampaikan isi hatinya, memohon agar Komachi sudi menjadi istrinya.
小町は、その真心を試そうと思い、こう答えました。「では、百の夜、欠かさず私のもとに通ってください。牛車の榻に腰かけて夜を明かし、百夜を数え終えたなら、あなたの願いを聞き入れましょう。」
Untuk menguji ketulusan itu, Komachi menjawab, “Kalau begitu, datanglah kepadaku seratus malam tanpa terputus. Duduklah semalaman di bangku penyangga poros kereta sapiku; bila genap seratus malam telah kau hitung, akan kukabulkan permintaanmu.”
その夜から、少将の百夜通いが始まりました。雨の夜も、風の夜も、少将は欠かさず通い、一夜ごとに榻に小さな印を刻みました。
Sejak malam itu, dimulailah “perjalanan seratus malam” sang Shōshō. Di malam hujan maupun malam berangin, ia datang tanpa pernah absen, dan setiap malam ia menggoreskan satu takik kecil pada bangku itu.
夜ごとに印は増え、季節は移ろっていきました。霜が降り、木枯らしが吹きすさぶ夜も、少将の心は揺らぎませんでした。九十九の夜が、こうして過ぎたのです。
Malam demi malam takik itu bertambah, dan musim pun berganti. Bahkan di malam ketika embun beku turun dan angin musim dingin mengamuk, hati sang Shōshō tak goyah. Demikianlah sembilan puluh sembilan malam telah berlalu.
そして、いよいよ約束の百夜目がやってきました。けれど、その夜は激しい大雪でした。少将は凍えながらも、最後の一夜を越えようと雪の道を急ぎました。
Lalu tibalah malam yang dinanti — malam keseratus yang dijanjikan. Namun malam itu turun salju lebat. Meski menggigil kedinginan, sang Shōshō tetap bergegas menembus jalan bersalju demi melampaui malam terakhir itu.
しかし、最後の一夜を満たすことは、ついにかないませんでした。満願を目前にして、少将は力尽き、帰らぬ人となってしまったのです。
Namun, malam terakhir itu tak pernah sempat ia genapi. Tepat ketika seratus malam tinggal selangkah lagi, sang Shōshō kehabisan tenaga dan menghembuskan napas terakhir — pergi untuk selamanya.
百夜を一夜残して消えた少将の悲しい恋は、長く語り継がれました。美しさゆえに人の心を惑わせた小町もまた、この悲劇を生涯忘れることはなかったと、伝えられています。
Kisah cinta pilu sang Shōshō — yang lenyap dengan menyisakan satu malam dari seratus — terus dituturkan turun-temurun. Konon Komachi, yang kecantikannya telah mengusik begitu banyak hati, pun tak pernah melupakan tragedi ini sepanjang sisa hidupnya.
LEGENDA(伝説) Tokoh sejarah, kisah legenda. 小野小町 adalah penyair 和歌 yang nyata dari pertengahan abad ke-9, salah satu 六歌仙 (Enam Penyair Genius) yang disebut 紀貫之 dalam 古今和歌集 (Kokin Wakashū, 905). Namun hampir tak ada yang pasti tentang hidupnya — bahkan catatan resmi zamannya tak menyebutnya. Kisah “Seratus Malam” (百夜通い) baru dibentuk jauh kemudian oleh para penulis 能 (Noh) seperti 世阿弥 (Zeami) di zaman Muromachi. Jadi: penyairnya fakta, kisah cintanya legenda.
Karya aslinya yang lestari. Salah satu waka Komachi termasyhur (kelak masuk 百人一首 no. 9):
花の色は 移りにけりな いたづらに わが身世にふる ながめせしまに — “Warna bunga telah pudar sia-sia, sementara aku termenung menatap hujan panjang, dan usiaku pun berlalu.” Ada permainan kata ganda: 世にふる = ‘menjalani hidup’ sekaligus ‘hujan turun’, dan ながめ = ‘termenung’ sekaligus ‘hujan panjang’. Tema layunya bunga ↔ layunya kecantikan terasa ironis mengingat reputasinya.
Legenda kemunduran. Kisah-kisah belakangan justru membayangkan Komachi mengakhiri hidup dalam kemiskinan, tua dan tak lagi rupawan — sebuah pembalikan nasib yang sarat pesan moral (muncul di Noh seperti Sotoba Komachi). Ini lebih banyak bercerita tentang kecemasan zaman pertengahan akan kefanaan kecantikan, ketimbang tentang perempuan sejarah yang sebenarnya.
“Komachi” menjadi kata. Saking lekatnya, 小町 kini berarti ‘perempuan jelita’ dalam bahasa Jepang — suatu daerah bisa membanggakan “○○ no Komachi”-nya, mirip menyebut seseorang ‘sang Helen’ di Barat. Namanya pun melekat pada beras あきたこまち (Akita Komachi) dan kereta cepat こまち (Komachi) jurusan Akita.
知っていましたか? — Tahukah kamu?
• Karena namanya menjadi sinonim kecantikan, lahirlah nama-nama populer: beras あきたこまち (Akita Komachi) dan Shinkansen こまち (Komachi) jurusan Akita — daerah yang secara tradisi dikaitkan dengan asal-usulnya.
• Komachi adalah tokoh 六歌仙 yang paling sering naik ke panggung 能 (Noh): setidaknya lima lakon bertajuk namanya — Sotoba Komachi, Sekidera Komachi, Kayoi Komachi, Ōmu Komachi, dan Sōshi-arai Komachi.
• Di Kyoto, kuil 随心院 (Zuishin-in) di kawasan Yamashina dikaitkan dengan Komachi; di sanalah legenda “Seratus Malam” Fukakusa no Shōshō dilekatkan — konon ia menandai tiap malam satu per satu, dan pohon-pohon di sana dikaitkan dengan hitungan itu.