むかしむかし、ある海辺の村に、浦島太郎という心の優しい若い漁師が住んでいました。ある日、浜辺を歩いていると、子供たちが一匹の亀をいじめていました。太郎は銭をはらって亀を買い取り、「もう捕まるんじゃないよ」と言って、そっと海へ逃がしてやりました。
Dahulu kala, di sebuah desa tepi laut, hiduplah seorang nelayan muda berhati lembut bernama Urashima Tarō. Suatu hari, saat berjalan di pantai, ia melihat sekelompok anak sedang menyiksa seekor penyu. Tarō membayar sejumlah uang untuk menebus penyu itu, lalu berkata, “Jangan sampai tertangkap lagi, ya,” dan melepaskannya pelan-pelan ke laut.
数日の後、太郎が舟で釣りをしていると、海の中からあの亀が現れ、人の言葉で話しかけました。「先日は助けてくださり、ありがとうございました。お礼に、海の底の竜宮城へご案内いたします。」太郎が亀の背中に乗ると、亀は深い海へと潜っていきました。
Beberapa hari kemudian, ketika Tarō sedang memancing dari perahunya, penyu itu muncul dari dalam laut dan berbicara dengan bahasa manusia. “Terima kasih telah menolong saya tempo hari. Sebagai balas budi, izinkanlah saya mengantar Tuan ke Istana Naga (Ryūgū-jō) di dasar laut.” Begitu Tarō naik ke punggung penyu, sang penyu pun menyelam ke laut yang dalam.
海の底には、色とりどりの魚が泳ぎ、珊瑚や真珠で飾られた美しい御殿がありました。門の前では、美しい乙姫が太郎を出迎えました。「あの亀を救ってくださったのは、あなた様ですね。どうぞ、ゆっくりしていってください。」
Di dasar laut, ikan warna-warni berenang, dan berdiri sebuah istana megah berhiaskan karang dan mutiara. Di depan gerbang, sang putri jelita, Otohime, menyambut Tarō. “Andalah yang telah menyelamatkan penyu itu, bukan? Silakan, tinggallah dan bersantailah sepuasnya.”
竜宮城での日々は、まるで夢のようでした。鯛や平目が舞い踊り、庭には春・夏・秋・冬の四つの景色が一度に広がっています。太郎は毎日、時を忘れて楽しく過ごしました。
Hari-hari di Istana Naga terasa bagaikan mimpi. Ikan kakap dan ikan sebelah menari-nari, dan di tamannya terbentang sekaligus empat pemandangan: musim semi, panas, gugur, dan dingin. Setiap hari Tarō melewatkan waktu dengan riang, hingga lupa akan waktu.
やがて太郎は、故郷に残してきた年老いた両親のことが気がかりになりました。「名残は惜しいですが、そろそろ家に帰らせてください。」乙姫は悲しそうに、一つの箱を手渡しました。「これは玉手箱です。けっして、ふたを開けてはいけません。」
Lama-kelamaan, Tarō teringat pada kedua orang tuanya yang sudah renta, yang ia tinggalkan di kampung halaman. “Berat rasanya berpisah, tetapi sudah waktunya saya pulang ke rumah.” Dengan wajah sedih, Otohime menyerahkan sebuah kotak. “Ini Tamatebako (kotak permata). Apa pun yang terjadi, jangan sekali-kali Tuan membuka tutupnya.”
亀に送られて浜辺に戻ると、太郎は目を疑いました。見慣れた家はどこにもなく、道を行く人の顔も、すべて知らない人ばかり。尋ねてみると、ある年寄りが言いました。「浦島太郎? ああ、そんな名の漁師が海へ出たまま帰らなかったのは、もう三百年も昔の話だよ。」
Setelah diantar penyu kembali ke pantai, Tarō tak percaya pada matanya. Rumah yang dulu dikenalnya tak ada di mana pun, dan wajah orang-orang yang lalu-lalang semuanya asing. Ketika ia bertanya, seorang tua menjawab, “Urashima Tarō? Ah, nelayan bernama begitu yang pergi ke laut lalu tak pernah pulang — itu kisah tiga ratus tahun yang silam.”
太郎は呆然と立ち尽くしました。両親も、友も、もうこの世にはいないのです。心の支えを失った太郎は、乙姫の言葉も忘れ、つい玉手箱のふたを開けてしまいました。
Tarō terpaku, tertegun. Kedua orang tuanya, juga kawan-kawannya, tak ada lagi di dunia ini. Kehilangan tumpuan hatinya, Tarō pun lupa pada pesan Otohime, dan akhirnya membuka tutup Tamatebako.
箱からは白い煙がもうもうと立ち上り、それを浴びた太郎は、たちまち白髪の老人へと変わってしまいました。竜宮城で過ごした長い年月が、いっきに太郎の身に戻ってきたのでした。
Dari dalam kotak mengepul asap putih yang membubung tebal, dan begitu terkena asap itu, Tarō seketika berubah menjadi seorang kakek beruban. Tahun-tahun panjang yang ia lewatkan di Istana Naga, dalam sekejap kembali seluruhnya ke tubuh Tarō.
MUKASHIBANASHI(昔話) Ini adalah cerita rakyat (昔話) — namun, tak biasa, ia termasuk kisah tertua yang terekam di Jepang. Intinya sudah muncul dalam 丹後国風土記 (sekitar 713), 日本書紀 (720, di bawah Kaisar 雄略), dan sebuah puisi panjang dalam 万葉集. Jadi, peristiwanya legenda, tetapi keberadaan kisah ini pada zaman Nara adalah fakta sejarah.
Nama & versi yang berubah. Dalam rekaman tertua, sang tokoh bernama 浦嶋子 (Urashimako), belum “Tarō”. Bentuk yang kita kenal — menolong penyu, 竜宮城, dan 玉手箱 — baru mapan lewat 御伽草子 (Otogizōshi) zaman Muromachi. Dalam sebagian versi kuno, penyunyalah yang menjelma jadi sang putri, dan negeri di seberang bukan “Ryūgū”, melainkan 常世 (Tokoyo) atau 蓬莱 (Hōrai) — negeri abadi bergaya Tiongkok.
Gema lintas-budaya: waktu yang melar. Jantung kisah ini adalah selisih waktu — beberapa hari di istana sama dengan ratusan tahun di darat. Motif “waktu dunia lain” ini menggemakan Rip Van Winkle (Amerika) dan kisah serupa di banyak bangsa. Begitu kuatnya citra itu sampai orang Jepang menamai pelambatan waktu relativistik sebagai 「ウラシマ効果」 (Urashima effect).
Jejak yang tertinggal. Kata 玉手箱 menjadi ungkapan untuk “sesuatu yang sebaiknya jangan dibuka” atau kejutan kenyataan yang datang tiba-tiba. Beberapa daerah — terutama kawasan 丹後 dan tempat lain — memelihara kuil serta “makam” Urashima, memadukan legenda dengan jati diri lokal. Perlu dibedakan: ini tradisi rakyat, bukan bukti adanya tokoh sejarah.
知っていましたか? — Tahukah kamu?
• Istilah 「ウラシマ効果」 (Urashima effect) dipakai (setengah berseloroh) oleh ilmuwan & penggemar fiksi ilmiah Jepang untuk pelambatan waktu relativistik: penjelajah antariksa yang melaju mendekati kecepatan cahaya bisa pulang dan mendapati Bumi telah menua ratusan tahun — persis nasib Tarō.
• Wahana antariksa Jepang Hayabusa2 menamai asteroid targetnya 竜宮 (Ryugu) — dari Istana Naga kisah ini — karena ia pergi ke “istana di kejauhan” lalu pulang membawa “kotak harta” berupa sampel asteroid. Sampelnya tiba di Bumi pada 2020.
• Dalam versi tertua (風土記), penyunya justru berubah menjadi sang putri, dan negeri di seberang laut bernama 常世 (Tokoyo) — “negeri abadi” dalam kepercayaan kuno, bercampur gagasan 蓬莱 (Hōrai / Penglai) dari Tiongkok.