Bab 02

神代(じんだい)· Zaman Para Dewa

建御名方たけみなかた諏訪すわ

Takeminakata & Danau Suwa — Mitos Penyerahan Negeri (Kuniyuzuri)

Dahulu, Amaterasu — dewi matahari yang menguasai Takamagahara (Dataran Langit Tinggi) — memandang ke bawah, ke “Ashihara no Nakatsukuni” (Negeri Tengah Dataran Buluh) yang terbentang di dunia bawah. Negeri yang makmur itu dibangun oleh Ōkuninushi, sang dewa bumi. Namun Amaterasu berpikir, “Negeri ini seharusnya diperintah oleh keturunanku,” lalu memutuskan mengirim utusan turun ke bumi.

Banyak utusan dikirim, tetapi semuanya malah tunduk pada Ōkuninushi dan tak pernah kembali ke langit. Maka para dewa langit memilih Takemikazuchi, sang dewa perang. Takemikazuchi turun ke Pantai Inasa di Izumo, menancapkan pedangnya terbalik di atas ombak, lalu duduk bersila di ujung mata pedang itu. Ia pun bertanya kepada Ōkuninushi, “Bersediakah engkau menyerahkan negeri ini kepada para dewa langit?”

Ōkuninushi menjawab, “Aku tak bisa memutuskan sendiri. Tanyakanlah kepada putra-putraku.” Putra sulungnya, Kotoshironushi, dengan patuh berkata, “Baik, hamba menerima,” lalu menyerahkan negeri itu dan menyingkir diam-diam sambil menyembunyikan perahunya.

Namun putra kedua, Takeminakata, lain ceritanya. Ia muncul sambil dengan entengnya menjinjing di ujung jari sebuah batu raksasa yang baru sanggup digerakkan seribu orang, lalu berseru lantang, “Siapa yang datang ke negeri kami dan berbisik-bisik begitu? Kalau begitu, mari kita putuskan lewat adu kekuatan!”

Ketika Takeminakata mencengkeram tangan Takemikazuchi, lengan itu seketika berubah menjadi pilar es, lalu menjelma bilah pedang yang tajam. Terkejut, Takeminakata tanpa sadar menarik kembali tangannya.

Kini giliran Takemikazuchi mencengkeram lengan Takeminakata. Bagai memetik buluh muda, ia meremasnya dengan amat mudah lalu melemparnya jauh-jauh. Sadar tak punya peluang menang, Takeminakata pun berbalik dan kabur.

Takemikazuchi mengejarnya jauh sekali, hingga ke Danau Suwa di Negeri Shinano. Tak punya tempat lari lagi, Takeminakata akhirnya menyerah dan bersumpah, “Tolong, ampunilah nyawaku. Aku tak akan pernah lagi keluar dari tanah Suwa ini. Aku tak akan membangkang ayah dan kakakku, dan kuserahkan negeri ini kepada para dewa langit.”

Demikianlah Ōkuninushi menyerahkan negerinya, dengan syarat dibangunkan baginya istana megah yang menjulang hingga ke langit. Inilah yang diyakini sebagai awal mula Izumo Taisha. Takeminakata yang menetap di Suwa kelak dipuja sebagai dewa Suwa Taisha. Negeri di bumi pun menjadi milik para dewa langit, dan kisah berlanjut menuju “Tenson Kōrin” — turunnya cucu Amaterasu ke dunia.

語彙ごいDaftar Kosakata

KataBacaanJLPTArti
子孫しそんN1keturunan, anak cucu
使者ししゃN1utusan
従うしたがうN3menurut, patuh, mengikuti
N2(perihal) perang, kemiliteran, bela diri
けん / つるぎN2pedang
逆さまさかさまN2terbalik
切っ先きっさき専門ujung mata pedang
決めるきめるN4memutuskan, menetapkan
息子むすこN4putra, anak laki-laki
素直すなおN2penurut, polos hati, jujur
譲るゆずるN2menyerahkan, mengalah, mewariskan
隠すかくすN3menyembunyikan
力比べちからくらべN2adu kekuatan
氷柱つららN1es menggantung (icicle)
N1bilah, mata (pisau/pedang)
あし専門buluh, gelagah (tumbuhan rawa)
降参こうさんN1menyerah kalah
誓うちかうN1bersumpah, berjanji
宮殿きゅうでんN1istana
条件じょうけんN3syarat, kondisi
建御名方 / 建御雷たけみなかた / たけみかづち名前nama dewa (kanji nama)
N5 N4 N3 N2 N1 名前/専門 (di luar Jōyō, tidak wajib JLPT)

解説かいせつKonteks & Komentar

MITOS(神話)  Kisah ini adalah mitos (神話しんわ) yang dikenal sebagai 国譲くにゆずり (Kuniyuzuri) — “penyerahan negeri”. Sumbernya dua naskah tertua Jepang: 古事記こじき (712 M) dan 日本書紀にほんしょき (720 M). Dalam mitos ini, kekuasaan atas dunia bawah berpindah dari para dewa bumi (garis 出雲いずも / Izumo) kepada para dewa langit — yang dalam mitologi dianggap leluhur garis 天皇てんのう (Kaisar). Jadi ia bukan catatan sejarah, melainkan kisah yang menjelaskan sekaligus melegitimasi tatanan kekuasaan.

Akar mitologis sumo. Adu kekuatan (力比ちからくらべ) antara 建御雷たけみかづち dan 建御名方たけみなかた kerap disebut sebagai asal-usul 相撲すもう (sumō) dalam mitologi. Gulat antar-dewa ini sejalan dengan akar sumo sebagai ritual 神道しんとう (Shintō) — persembahan kekuatan kepada dewa, jauh sebelum ia menjadi olahraga modern.

Lapisan sejarah (tafsir). Banyak sejarawan membaca Kuniyuzuri sebagai kenangan samar atas peristiwa nyata: menyatunya wilayah 出雲いずも ke dalam kekuasaan 大和やまと (Yamato) pada masa pembentukan negara Jepang awal. Ini sebuah tafsir, bukan fakta yang terbukti — namun memperlihatkan bagaimana mitos sering menyimpan jejak konsolidasi politik, seperti di banyak peradaban lain.

Mengapa 諏訪すわ penting. 建御名方たけみなかた dipuja di 諏訪大社すわたいしゃ (Suwa Taisha), salah satu kuil tertua Jepang. Ia menjadi dewa angin, air, perburuan, dan perang — sehingga para samurai di zaman kemudian sangat menghormatinya. Meski dalam mitos ia “kalah”, di Suwa ia justru dimuliakan sebagai dewa pelindung yang perkasa.

知っていましたか? — Tahukah kamu?

諏訪大社すわたいしゃ termasyhur dengan 御柱祭おんばしらさい (Onbashira), festival tiap enam tahun ketika batang pohon raksasa diluncurkan menuruni lereng curam sambil ditunggangi — sebuah ritus yang mempertaruhkan nyawa. Sebagian kuil Suwa bahkan tak punya 本殿ほんでん (aula utama); yang dipuja adalah gunung itu sendiri.

• Sang lawan, 建御雷たけみかづち, dipuja di 鹿島神宮かしまじんぐう (Kashima). Dalam kepercayaan rakyat ia menekan 大鯰おおなまず (lele raksasa) penyebab gempa dengan “batu pasak” 要石かなめいし — maka ia juga dianggap pelindung dari gempa bumi.

• Dalam kalender lama, bulan ke-10 disebut 神無月かんなづき (“bulan tanpa dewa”), konon karena para dewa berkumpul di Izumo. Namun di Izumo sendiri bulan itu justru dinamai 神在月かみありづき (“bulan ada dewa”) — gema dari mitos Kuniyuzuri yang menjadikan Izumo pusat berkumpulnya para dewa.