昔、ある家に、二人の姉妹がいました。姉は器量よしを鼻にかけ、妹は地味だけれど心のやさしい娘でした。
Dahulu, di sebuah rumah, hiduplah dua orang saudari. Sang kakak menyombongkan kecantikannya, sedangkan sang adik bersahaja namun berhati lembut.
ある日、みすぼらしい身なりの老婆が家をたずね、一杯の水を所望しました。姉は「汚らしい」と追い払いましたが、妹は冷たい水を、笑顔で差し出しました。
Suatu hari, seorang nenek tua berpakaian compang-camping bertandang dan meminta semangkuk air. Sang kakak mengusirnya, “Kotor sekali,” tetapi sang adik menyodorkan air sejuk dengan senyuman.
老婆は喜び、こう言いました。「古い歌の上の句を言おう。下の句を続けてごらん。――『花よりも、人の心の……』」
Sang nenek bergembira dan berkata, “Akan kuucapkan bait pembuka sebuah waka kuno. Cobalah engkau sambung bait penutupnya: ‘Melebihi bunga, hati manusia yang...’”
妹は、しばし考えて、そっと続けました。「……『美しきは、香り失せじ』」――やさしさは花の香りと違い、枯れて消えはしない、という意味でした。
Sang adik berpikir sejenak, lalu menyambung dengan lembut, “…‘yang indah, takkan pernah pudar wanginya.’” — maknanya: kelembutan hati, tak seperti harum bunga, takkan layu dan lenyap.
老婆は深くうなずきました。「見事じゃ。お前の心は、その歌のとおりじゃ。」そう言うと、老婆の姿は光に包まれ、気高い女神へと変わったのです。
Sang nenek mengangguk dalam-dalam. “Sungguh menawan. Hatimu persis seperti waka itu.” Begitu berkata, sosok sang nenek diselimuti cahaya, lalu berubah menjadi seorang dewi yang anggun.
女神は妹に、尽きることのない幸せと、言うたびに花がこぼれる不思議な力を授けました。妹の口からは、言葉とともに美しい花びらが舞うようになったのです。
Sang dewi menganugerahi sang adik kebahagiaan yang tak pernah habis, serta kekuatan ajaib: setiap kali ia berbicara, bunga akan berguguran. Dari mulut sang adik, bersama kata-katanya, kelopak bunga yang indah pun melayang-layang.
それを見た姉は、うらやんで女神を探し、無理やり同じ力をねだりました。けれど意地悪な姉の口からこぼれたのは、花ではなく、とげのある言葉ばかりでした。
Melihat itu, sang kakak iri lalu mencari sang dewi dan memaksa meminta kekuatan yang sama. Namun dari mulut sang kakak yang berhati jahat, yang berguguran bukanlah bunga, melainkan kata-kata berduri belaka.
外の美しさは、いつか枯れる。けれど心のやさしさは、香りのように長く人を包む――姉妹の物語は、そっとそう語りかけます。
Kecantikan lahiriah, suatu saat akan layu. Namun kelembutan hati, bagaikan harum, lama menyelimuti orang — demikianlah kisah dua saudari ini dengan halus berbicara kepada kita.
PERLU VERIFIKASI Motif ‘dua saudari’. Judul Inggris ‘Sister Rimes’ obscure; kisah di atas adalah penceritaan ulang orisinal dari pola folklor universal ‘dua bersaudara berwatak berlawanan diuji oleh sosok tersamar’. Tak ada satu teks 昔話 baku yang dapat dipastikan. (Perlu verifikasi sumber spesifik.)
Pola lintas-budaya. Kisah ini sangat menyerupai dongeng Eropa “Diamonds and Toads” (Perrault) — adik baik hati berbicara bunga/permata, kakak jahat memuntahkan ular/duri. Pola ‘kebaikan diberkati, kejahatan dikutuk’ memang melintasi banyak bangsa.
Waka sebagai ujian hati. Penceritaan ulang ini sengaja memakai menyambung bait waka (上の句・下の句) sebagai ujian — menggemakan budaya istana Heian [[ono-no-komachi]] di mana kemampuan berpuisi mencerminkan keluhuran budi seseorang.
Kecantikan luar vs dalam. Tema ‘paras akan layu, budi akan abadi’ adalah nasihat klasik yang bergema dengan banyak ajaran moral, termasuk yang akrab bagi pembaca Indonesia. Bdk. layunya kecantikan dalam waka [[ono-no-komachi]].
知っていましたか? — Tahukah kamu?
• Dalam permainan kartu 百人一首 (Hyakunin Isshu), pemain harus menyambung 下の句 begitu mendengar 上の句 — tradisi nyata ‘menyambung bait’ yang masih populer hingga kini.
• Pola ‘dua bersaudara baik & jahat diuji’ ada di mana-mana: dari Cinderella hingga banyak dongeng Nusantara — bukti tema moral universal lintas-budaya.
• Di banyak 昔話, sosok ‘pengemis/nenek tua’ yang ternyata dewa menyamar berfungsi menguji ketulusan manusia — pengingat untuk berbuat baik kepada siapa pun.